TRENDING NOW


Apa manfaat Iklan di web ini


  1. Web ini di berbagai nama pencarian atau Keyword sudah di halaman satu Search Engine terutama Google
  2. Bisa untuk backlink ke Website anda Atau Akun Sosmed anda
  3. Bisa langsung di Kasih No Kontak atau Alamat anda sendiri, sehingga Customer langsung menghubungi anda
  4. Web ini sudah di kunjungi ribuan orang
  5. Sudah pasti nama nursery anda akan tambah terkenal
  6. Website ini setiap sebulan sekali saya optimasi melalui ratusan akun SOSMED kami, sudah pasti jika ada yang buka website ini Nama Nursery anda akan di lihat juga


Anda mau beli Tanaman Aglaonema untuk koleksi pribadi atau untuk di jual kembali silakan WA no yang ada di gambar ini, Inshaa Alloh saya bisa memberikan solusinya..Terima Kasih


aglaonema
aglaonema silver queen
aglaonema hybrid
aglaonema lipstick
aglaonema pink
aglaonema siam aurora
aglaonema valentine
aglaonema butterfly
aglaonema brevispathum
aglaonema commutatum
agnatha
aglaonema modestum
aglaonema red fire
siam aurora aglaonema
aglaonema lady valentine
aglaonema crispum
hemigraphis
agromyzidae
agrilus
aglaonema costatum
aleurites
aglaonema thailand
aglaonema pictum
aglonema red
aglaonema sp
aglaonema aurora

AGLAONEMA : merupakan Pupuk Langsung Pakai yang digunakan untuk tanaman hias daun khusus aglaonema. pupuk ini berbentuk cairan pupuk sebanyak 480 ml dengan kombinasi khusus untuk Mengkilapkan daun pada tanaman hias Aglaonema.

Pupuk Langsung Pakai untuk aglaonema sangat cocok untuk bibit tanaman hidroponik dan bagi para pemula hobbies tanaman dan sayuran. Pupuk Langsung Pakai Daun sangat praktis, mudah dan siap pakai. hanya tinggal disemprot selesai dan tinggal menunggu hasilnya. Cara penggunaan lengkap tertera di kemasan.


Hasil Yang diperoleh menggunakan pupuk ini adalah :

Mengkilapkan. mempertebal. mencerahkan. serta memperbesar ukuran daun aglonema
Warna daun aglaonema menjadi lebih bercorak batik sehingga lebih memukau
Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit dan serangan hama
Pupuk Langsung Pakai Aglaonema hanya dapat diaplikasikan untuk tanaman hias Aglaonema.


Pameran

FLONA 2018

Jumat, 10 Agustus 2018  Senin, 10 September 2018
Flona 2018
Pameran Flora & Fauna Dinas Kehutanan Provinsi DKI Jakarta
Tanggal : 10 Agustus - 10 September 2018
Tempat  : Lapangan Banteng
Contact  : PT. Sande Nirmana
021-72799818
0878-85856276
0812-96506801
0878-88456726

sumber jakarta dot go dot id
AGLAONEMA : Sejak lama aglaonema telah dicoba diperbanyak lewat kultur jaringan. Namun baru kali ini menunjukkan hasil. ADALAH MONFORY NUSANTARA YANG BERHASIL. MELALUI METODE ORGANOGENIS, menggunakan batang bermata tunas. Total ada sekitar 15 hibrida aglaonema yang menunjukkan performa bagus di laboratorium dan nursery milik Monfory di Bogor, Jawa Barat. “Sejak lebih kurang dua tahun lalu kami

melakukan percobaan pada 30 hibrida dan belakangan kami tambah 12 hibrida,” ungkap Suzy Ratnawati Madjid, Plant Manajer Monfory Nusantara. Hasil kuljar sudah masuk ke divisi nursery untuk diadaptasi dan dibesarkan sampai siap dipasarkan. Antara lain, Lady valentine, Cochin tembaga, Red fire, Lipstik flamingo, dan Madonna. Silangan Gregory Hambali macam Madame Suroyo, Adelia, dan Siti Nurbaya juga sudah mulai diproduksi. “Sekarang kami sudah bisa menghasilkan total 2.000 anakan silangan aglaonema perbulan. Tetapi angka tersebut akan terns meningkat,” lanjut Suzy.
SIKLUS LEBIH PANJANG
Teknik tissue culture pada tanaman berjuluk ratu daun ini serupa dengan prosedur kuljar (kultur jaringan) tanaman hias lain. Namun aglaonema punya siklus kuljar yang lebih lama. “Kalau caladium dan alokasia hanya butuh waktu 4 minggu sampai eksplan tumbuh dan siap dipotong kembali. Tetapi aglaonema butuh waktu sampai 5-6 minggu,” terang Suzy. Tahap ini biasa disebut subkultur melalui stek mikro.
Namun persoalan utama dalam proses kuljar aglaonema adalah sterilisasi eksplan. Kalau eksplan terkontaminasi, tak bakal bisa tumbuh. Setup tanaman menyimpan bakteri endogen yang bisa jadi berbeda. “Kami melakukan banyak trial & error sampai menemukan teknik sterilisasi khusus dan berhasil. Bahan untuk sterilisasi persis seperti yang kami pakai untuk tanaman hias lain,” lanjut Susy.
Setelah proses sterilisasi berhasil, tinggal mencoba-coba ramuan media dan hormon paling pas supaya pertumbuhannya maksimal. Monfory menggunakan media kuljar padat berbahan dasar media MS. “Tapi dengan beberapa modifikasi dan penambahan ramuan hormon tertentu. Teknik pemotongan eksplan juga berbeda,” lanjutnya.
KULTUR JARINGAN HEMAT
Kultur jaringan skala rumahan untuk tanaman bernama lokal Sri rejeki ini sudah dicoba. Seperti yang dilakukan oleh Novi Syatria di Klender, Jakarta Timur. Namun belum seratus persen berhasil, permasalahan sterilisasi masih jadi kendala. “Eksplan sudah kelihatan tumbuh tetapi masih terkontaminasi bakteri. Saya sedang mencoba dengan tambahan formula anti bakteri yang hasilnya bagus pada tanaman lain,” ungkap down Universitas Bengkulu.
Novi melakukan sterilisasi eksplan sebelum ditanam. Potongan batang bermata tunas dicuci dengan air mengalir dan deterjen. Kemudian di-shaker dalam larutan fungisida dan dibilas dengan air stern. Dilanjutkan direndam larutan fungisida, dibilas air stern sampai bersih.
Ketiga langkah itu dilakukan masingmasing 30 menu Terakhir direndam dalam larutan alkohol 70% sambil digoyang dan dibilas 5 kali dengan air. Proses kultur jaringan, menurut Novi, bisa dilakukan dalam skala rumah tangga. Bisa menggunakan
peralatan yang terjangkau. Semisal Laminar air flow, semacam kotak stern, bisa diganti dengan incase yang bisa dipesan pada tukang kaca. Autoclaf bisa diganti dengan panci presto, asalkan suhunya bisa melebihi 100 °C. Penggunaan mediaa padat tak perlu mesin shaker. Kalau menggunakan media beli jadi, tak perlu timbangan dan alat ukur. Perlengkapan botol juga bisa diganti. Namun perlu ruang sejuk untuk menyimpan kultur yang sudah diisolasi. Bagi pemula bisa memanfaatkan kamar ber-AC. “Proses kerja dasar bisa dipelajari hanya dalam satu hari, selebihnya lewat praktik langsung,” lanjut Novi yang acap memberikan pelatihan kuljar. Nah, Anda pun bisa mencobanya. ~
TAHAPAN KULJAR
  1. Media masak masuk botol, dimasukkan ke autoclaf selama 1 jam. Pastikan steril sampai 3 hari.
  2. Alat yang hendak digunakan disterilisasi dulu dalam autoclaf.
  3. Sterilisasi alat, kalau menggunakan laminar, letakkan dalam laminar tertutup dan lampu UV menyala sejam.
  4. Laminar dibuka, blower dan lampu nyala, semprot alkohol 70%.
  5. Bahan dan alat disemprot alkohol.
  6. Memotong bahan eksplan dari induk yang sehat.
  7. Sterilisasi dan pemotongan eksplan diluar dan di dalam alat kerja (laminar atau in case).
  8. Eksplan ditanam, gunakan pinset yang telah dibakar api bunsan dan dicelup air steril. Mulut botol juga dibakar api bunsan.
  9. Botol diletakkan di ruangan steril bersuhu sejuk sampai siap dimultifikasi lewat jalan stek mikro.
Silangan Lokal Menggembirakan
Kebanyakan aglaonema yang sukses dikembangbiakkan lewat semacam teknologi clone di Monfory adalah hibrida hash persilangan Thailand. Sementara aglaonema silangan Gregory Hambali di Bogor, belum optimal. “Barangkali dipengaruhi bahan silangan, silangan Thailand keturunan cochin punya rugs lebih panjang pertanda pertumbuhannya cepat. Berbeda dengan keturunan rotundum yang beruas pendek,” ungkap Lewi Pohar Cuaca, manajer marketing Monfory Nusantara. “Kuljar menggunakan ramuan media dan formula yang sama, pertumbuhan aglaonema lokal masih belum secepat silangan Thailand,” tambah Suzy. Diperlukan ramuan hormon khusus. Sampai saat ini, Monfory telah membuat 28 ramuan media untuk menginisiasi 12 spesies tanaman.
KULTUR JARINGAN : Semua berawal 14 tahun silam di ruang sempit 2 m x 3 m yang berisi autoclave, laminar, dan botol kultur di rak setinggi 2 m. Di salah satu laboratorium kultur jaringan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, itu Edhi menatap 17 bahan media Murashige dan Skooge (MS) dengan wajah bingung. ‘Harga bahan media MS saja sudah Rp15- juta, belum biaya lainnya,’ kata kepala unit kultur jaringan di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB, itu. Padahal, ketika itu dana yang dimiliki sangat minim.
Ketika itu media MS harus diracik sendiri, belum ada yang dijual dalam bentuk jadi. Untuk membuat media MS 1 liter, mestinya hanya butuh 0,25 mg sodium molybdate, Na2MoO4. Apesnya, bahan itu tak bisa dibeli eceran. Edhi mesti membeli kemasan paling kecil isi 100 g. Harganya Rp690.000. Hormon Thidiazuron 100 mg harganya Rp1,7-juta. Padahal, pemakaian cuma 0,005-0,2 mg/l. CoCl2 25 g Rp1,3-juta, pemakaiannya hanya 0,025 mg/l.
Kegundahan Edhi sirna setelah bertemu mendiang Prof M Yahya Fakuara, guru besar di Fakultas Kehutanan, IPB. ‘Jangan menyerah, gunakan plasma nutfah yang banyak di Indonesia. Jangan mengekor terus dengan teknologi Barat,’ ujar Edhi mengulangi ucapan Yahya. Kata-kata pria yang meraih gelar doktor di University of The Philippines itu membuat pikiran Edhi mengkristal. Ingatannya melayang ke masa kuliah tingkat satu dulu.
Air kelapa
Di tingkat pertama kuliah, 1984, Edhi gemar mengoleksi anggrek. Di dunia anggrek itulah Edhi mengenal air kelapa. Para penganggrek senior yang tak mengenal ilmu pertanian kerap menggunakan air kelapa sebagai campuran media penumbuh biji anggrek dalam botol. Edhi lantas membuka-buka literatur mengenai air kelapa. Ia menemukan air kelapa kaya potasium atau kalium hingga 17%. Dengan kalium tinggi itu, air kelapa merangsang pembungaan anggrek dendrobium dan phalaenopsis. Mineral lain seperti natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P), dan sulfur (S) ada dalam air kelapa.
Air kelapa juga kelompok hormon alami: auksin dan sitokinin. Dalam kultur jaringan auksin berperan memicu terbentuknya kalus, menghambat kerja sitokinin membentuk klorofil dalam kalus, mendorong proses morfogenesis kalus, membentuk akar, dan mendorong proses embriogenesis. Sedangkan sitokinin merangsang pembelahan sel, proliferasi meristem ujung, menghambat pembentukan akar, dan mendorong pembentukan klorofil pada kalus.
Sayang, Edhi tak bisa langsung memakai air kelapa sebagai media kultur jaringan. ‘Komposisi untuk media anggrek dan kultur jaringan berbeda,’ ujar Sarjana Biologi, IPB, itu. Beragam volume air kelapa mulai dari 150 ml, 200 ml, 250 ml, hingga 500 ml per liter media kultur diuji kecocokannya. Empat bulan berselang Edhi mendapat takaran yang pas, 150 ml air kelapa/l media.
Usai meneliti komposisi air kelapa yang pas, Edhi mencari bahan pemasok unsur hara. Lazimnya pada kultur jaringan dipakai bahan proanalis alias senyawa murni. Misalnya KNO3 murni. ‘Karena murni, maka harganya mahal,’ kata ahli fisiologi tanaman itu. Ia lalu mengganti sumber unsur hara dari proanalis dengan teknis (kemurnian rendah, red) yang murah. Misalnya KNO3 murni yang harganya Rp900.000/100 g diganti pupuk NPK yang mudah diperoleh di toko pertanian. Harganya di bawah Rp50.000.
Sayur dari dapur
Namun, itu saja belum cukup, ada 6 penyusun media kultur yang wajib dipenuhi: unsur makro dan mikro, vitamin, sumber energi, bahan organik seperti asam amino dan asam lemak, pemadat, serta hormon. Lagi-lagi demi menghemat biaya Edhi menggunakan pisang ambon sebagai sumber energi di media kuljar. Itu karena anggota famili Musaceae itu mengandung karbohidrat yang berenergi tinggi. Dalam 100 gram berat kering pisang mengandung energi 136 kalori.
Edhi juga menggunakan sayuran taoge dan buncis yang biasa dimasak sang istri sebagai campuran bahan media. Yang disebut pertama mengandung antioksidan, vitamin E, kanavanin-jenis asam amino-, dan hormon auksin. Sementara buncis mengandung protein, karbohidrat, vitamin, serat kasar, dan mineral. Namun, yang paling penting diambil dari buncis adalah sitokinin yang bisa memacu pertumbuhan tunas.
Akhirnya setelah 10 tahun meneliti, Edhi menemukan takaran ideal bahan organik untuk media kultur jaringan. Ia pun membangun laboratorium di rumah tinggalnya di Taman Cimanggu, Bogor.
Sayang, semuanya tak berjalan mulus. Kalus dalam botol kaca mengalami kontaminasi hingga 40-60%. Anehnya terjadi 1-2 bulan setelah eksplan dimasukkan ke dalam botol. ‘Yang parah kontaminasi bisa sampai 80% jika mati lampu,’ kata Ir Hapsiati, sang istri. Maklum, laboratorium di rumah Edhi tak secanggih perusahaan besar. Di perusahaan modern kultur jaringan dilakukan di ruang steril. Pelakunya memakai pakaian khusus. Suhu ruang inkubasi tempat penyimpanan kultur pun stabil, 20oC, lantaran ber-AC. Di tempat Edhi, ruang inkubasi dekat dengan dapur dan tak berpendingin.
Karet gelang
Ayah 3 anak itu lebih berhati-hati mensterilisasi eksplan, botol, dan media. Namun, betapa keras ia jaga kebersihan, bakteri selalu datang. Sampai suatu ketika, awal 2008, pria bertubuh gempal itu terkejut melihat 3 botol berisi eksplan di ruang terbuka di lantai 2 rumahnya malah tumbuh subur. ‘Di sana mereka kehujanan dan kepanasan selama sebulan, tapi tak terkontaminasi bakteri sedikit pun,’ ujar master ilmu pengetahuan kehutanan, IPB, itu. Usut punya usut penutup botol berbeda dengan yang lain. Tutup plastik dobel 3 dengan 30 karet gelang.
Biasanya hanya satu lapis plastik dan diikat 2 karet gelang untuk botol yang ditaruh dalam ruang inkubasi. Rupanya ketika itu Edhi ingin menguatkan tanaman kultur sebelum dikeluarkan dari botol alias hardening. Plastik transparan yang digunakan untuk menutup botol digandakan 3 kali dan ikat dikencangkan dengan 30 karet gelang.
Dari kasus itu Edhi menduga sumber masalah terletak pada kerapatan penutup botol. Ternyata benar, selapis tutup plastik tak bisa menahan tekanan dari luar yang besar. Karet gelang pun memuai jika terkena panas sehingga 2 karet tak cukup kencang. Bila memuai, ikatan kendor. Bakteri pun masuk dan beranak-pinak dalam botol yang kaya hara.
Edhi lalu menambah lapisan plastik penutup botol dan karet gelang. Mulai dari 6, 8, dan seterusnya hingga akhirnya didapat yang benar-benar ideal. Kini ia menggunakan 5 lapis plastik transparan dan 50 karet. Hasilnya, tak ada lagi eksplan yang terkontaminasi meski kucing kesayangan Edhi kerap beristirahat di antara botol-botol berisi eksplan.
Patahkan mitos
Penelitian Edhi mematahkan mitos teknik kultur jaringan berbiaya mahal dan sulit. Dengan cara Edhi yang organik, biaya produksi hanya Rp400/tanaman. Sementara dengan MS dan bahan-bahan murni Rp1.000/tanaman.
Menurut Edhi, semua jenis tanaman dapat diperbanyak dengan metode ini. Edhi telah berhasil mengkultur nepenthes, aglaonema, dan anggrek. Itu terlihat di ruang inkubasi seluas 2 m x 3 m. Di sana botol-botol berisi eksplan Nepenthes rafflesiana, aglaonema tiara dan widuri, philodendron, serta jati berbaris rapi di rak besi 3 tingkat.
Bila jumlah tanaman telah memenuhi kuota, misal 1.000 tanaman, Edhi mengeluarkan dari botol dan menanamnya secara berkelompok dalam pot bermedia campuran sekam bakar dan cocopeat. Maka tanaman hasil kultur jaringan dari dapur siap dipasarkan. (Rosy Nur Apriyanti)